Ingin menjadi “Peter Pan”

“Berdamailah dengan mereka! Jangan bertindak kekanak-kanakan! Kamu bukan anak kecil lagi!”
“Cukup! Kamu tak mengerti apapun! Aku muak mendengar pertengkaran-pertengkaran itu! Aku muak mendengar hal-hal yang hanya menyakiti hatiku! Kenapa aku tak boleh bertindak kekanak-kanakan sementara mereka boleh? Sedewasa apapun aku, aku tetaplah seorang anak…”
***
Aku sering berpikir, alangkah asyiknya jika aku menjadi Peter pan, menjadi anak-anak selamanya. Bermain-main dan bersenang-senang selama hidupku. Ya, tanpa harus menghadapi berbagai cobaan hidup yang terkadang hampir membunuhku. Alangkah asyiknya.
Aku kembali teringat percekcokan antara aku dan kawanku kala itu (percakapan di atas). Saat itu, aku marah pada orangtuaku. Mengapa mereka tak menghargai keberadaanku dengan menunjukkan pertengkaran di depanku? Menurutku mereka kekanak-kanakan. Dan aku memilih untuk menghindar.
Kini aku sadar, bahwa aku salah. Aku memang seorang anak, tapi aku bukan anak kecil lagi. Tidak seharusnya aku bersikap kekanak-kanakan dengan menghindari kedua orangtuaku. Hanya Peter pan yang bisa menjadi anak-anak selamanya. Hanya dia di negeri dongengnya. Di dunia ini, semua anak beranjak dewasa, tak terkecuali aku. Aku tak mungkin menjadi Peter pan.
Lagi-lagi waktu. Waktu memaksaku menjadi dewasa. Waktu menyeretku untuk mengerti kehidupan. Andai saja waktu itu aku bersikap dewasa, hal-hal bodoh itu tidak akan terjadi. Andai saja saat itu aku bersikap dewasa, aku pasti mengerti bahwa memang seperti itulah kehidupan. Tidak mungkin ada kehidupan tanpa kerikil-kerikil di sepanjang jalanya. Tapi tentu saja kita bisa melaluinya, nyatanya pertengkaran-pertengkaran itu tak pernah ada lagi. 🙂 (Mega Aisyah)

Sebuah hubungan…

Sejak SD kita tahu bahwa manusia adalah makhluk sosial. Ya, manusia tak akan bisa bertahan tanpa manusia lain. Atau dengan kata lain, manusia tak akan bisa bertahan tanpa berhubungan dengan manusia lain. Itu sudah hukum alam yang tak bisa diganggu gugat.
Tapi aku tidak menyangkal bahwa menjalin hubungan sesama manusia bukanlah hal yang mudah bagi semua orang. Di tambah lagi, memang tidak mungkin semua hubungan berjalan tanpa ada cacat sedikitpun.
Contoh kecil dariku. Beberapa waktu lalu, aku bertengkar dengan seorang sahabat yang aku pikir tak akan pernah terjadi sebelumnya. Usut punya usut, dialah yang salah. Akhirnya, dengan malu-malu dia mendatangiku.
“Maafkan aku ya kawan?”
Aku diam.
“Ayolah! Tuhan saja memaafkan kesalahan hambaNya!”
Sontak aku terkejut dia berkata seperti itu.
“Jangan sembarangan! Aku bukan Tuhan!”
Lihat! Dunia ini memang sudah salah kaprah.
Aku pergi meninggalkannya tapi memaafkannya. Aku hanya ingin ngerjai dia saja… 🙂
Aku berpikir bahwa pertengkaran inilah yang menandakan adanya hubungan di antara kami. Terlebih saat kami bisa melalui pertengkaran ini, persahabatan kami justru semakin dekat. (Mega Aisyah)